Malam Minggu ini masih tetap sama, rupanya. Hujan deras mengguyur kota yang berkesan dan penuh arti ini. Secangkir kopi dan layar komputer di depan gue saat ini mungkin sudah bosan melihat gue yang gini-gini aja tiap malam Minggu. Belum lagi lagu demo yang masih belum rampung tiada habis-habisnya gue putar.
Kalau dihitung-hitung sudah hampir setengah hari gue duduk di posisi ini. Sedari tadi, tangan gue sibuk mengutak-atik tombol-tombol di depan gue. Telinga gue pun turut sibuk menyocokkan nada satu dengan yang lain.
Capek juga ya ternyata.
Ada baiknya gue santai sebentar sambil menyesap kopi yang sedari tadi gue acuhkan. Sambil menyesap kopi yang sudah tidak lagi hangat itu, mata gue mengedar ke benda yang ada di sekitar meja kerja gue. Tidak lama setelah itu, tiba-tiba mata gue tertuju pada sebuah foto polaroid yang terpajang di rak kayu sebelah meja kerja gue.
Gue ngga tau kenapa setiap kali menatap foto ini gue serasa dibawa kembali ke masa lalu, masa lalu yang gue sesali sampai sekarang.
Foto ini diambil oleh Niskala, 11 MIPA 6. Adik kelas sekaligus penggemar rahasia gue. Bukannya gue kegeeran dan mengada-ada, tapi ini semua benar adanya.
Niskala, nama panjangnya Niskala Ayu Sekar Kusuma. Mendengar namanya saja rasanya sudah terbayang seberapa indah parasnya. Sayang orangnya cenderung pendiam dan sangat pemalu. Dari awal Gery kasih tau ke gue kalau cewek ini suka sama gue, gue cuma heran apa bagusnya gue? Justru awalnya gue kira si Gery asal ngomong aja karena gue emang ngga pernah deket sama satu cewek pun.
Ternyata gue salah besar. Niskala bener-bener mengagumi seorang Angkasa Kawindra. Bahkan, sampai detik ini pun gue juga belum tau persis apa yang membuat dia mengagumi gue sebegitu besarnya.
Tujuh tahun yang lalu, setiap pagi entah roti atau sekotak susu ngga pernah absen buat nangkring di bangku gue. Biasanya selalu dibarengi dengan secarik kertas bertuliskan kalimat yang menyemangati. Semua kertasnya masih ada, masih gue simpan sampai sekarang. Kalau roti atau susunya selalu dihabiskan oleh Gery dan Edgar. Pernah suatu hari gue menghabiskan rotinya sendirian. Hari itu roti yang dia kasih roti sisir, persis sekali dengan milik anak paskibra. Namun, sayangnya itu adalah roti terakhir yang Niskala kasih ke gue.
Gue masih inget persis, hari itu hari Kamis. Gue datang duluan dibanding temen-temen kelas yang lain. Sebungkus roti dan secarik kertas sudah ada di bangku gue seperti biasa. Namun, anehnya hari itu entah kenapa gue pengen banget buat makan rotinya, padahal gue udah sarapan capcay buatan bunda. Edgar yang tiba-tiba dateng sampai keheranan liat gue.
*“Tumben sa, lo makan sendiri rotinya? Ga sarapan lo?” *
“Nggaaa kok, gue cuma lagi pengen aja.”
Besoknya, gue ngga bisa masuk sekolah. Karena Bunda minta gue cepet-cepet ngurus KTP. Sejujurnya gue males banget, tapi ya kalau udah disuruh bunda, gue bisa apa?
Tapi, ngga gue sangka Edgar chat gue dan bilang, kalau ada titipan dari Niskala. Gue sendiri saat itu bingung. Ini cewek ngasih gue apa lagi? Eh, taunya foto polaroid ini. Sederhana saja, foto ini cuplikan yang diambil diam-diam saat gue manggung di acara HUT sekolah tahun sebelumnya, tapi disertai dengan tanggal diambilnya plus tanda tangan kecil Niskala di baliknya.
Sejujurnya waktu gue ngeliat foto ini, ada sesuatu di dada gue. Sesuatu yang belum pernah gue rasain sebelumnya. Gue gatau persisnya apa. Yang gue tau, setiap kali ngeliat foto ini gue selalu senyum-senyum sendiri ya, kaya sekarang ini contohnya. Sayang perasaan itu munculnya bener- bener terlambat.
Sejak setelah hari itu, Niskala ngga pernah datang lagi ke sekolah. Ngga ada lagi roti atau susu di bangku kesayangan gue. Ngga ada lagi ucapan ulangtahun yang selalu gue nanti setiap tahunnya. Ngga ada lagi Niskala yang selalu menghindar saat ketemu gue, karena Gery dan Edgar yang sering ngecengin dia.
Gue sampai sekarang bener bener ngga tau Niskala pergi kemana. Sampai gue lulus pun gue udah clueless aja rasanya. Gery dan Edgar udah coba bantu gue buat nanyain keberadaan Niskala ke temen-temen kelasnya dan mereka bilang, Niskala pindah sekolah. Waktu gue tanya dia pindah kemana mereka ngga ada yang tau. Sosial media Niskala semuanya juga nonaktif, termasuk nomor teleponnya.
Pernah suatu hari gue dapet kabar bisik-bisik dari teman sekelas Niskala katanya, dia pindah ke Jogja. Oke, katakan gue udah ngga waras lagi. Sejak hari itu gue pergi merantau ke Jogja dan sampai mendirikan studio kecil yang gue tempati sekarang ini. Sayangnya gue tetap ngga menemukan sesosok Niskala sampai sekarang.
Gue merasa kesal dengan gue sendiri. Kalau aja hari itu gue ngga mengacuhkan perasaan Niskala pasti gue ngga akan begini jadinya. Ya, tapi apa boleh buat? Penyesalan selalu datang diakhir kalau diawal mah namanya pendaftaran.
Gue udah pasrah sama Tuhan soal akhir cerita ini. Walaupun harapan gue buat ketemu Niskala masih besar banget. Masih ada banyak pertanyaan di kepala gue yang pengen banget gue tanyain ke dia dan termasuk soal perasaan gue juga.
Disini gue cuma bisa berharap, semoga Tuhan selalu menghujani kebahagian buat dia. Semoga dia sehat selalu dan tak pernah merasa kurang apapun. Kalaupun memang kemungkinan terburuk gue ngga akan pernah ketemu dia lagi, gue harap dia berjodoh dengan laki-laki yang jauh lebih baik dari gue. Tapi, kalau masih ada kemungkinan buat ketemu dia, gue harap kita bertemu lagi dengan cara yang jauh lebih mengagumkan.
I'm here, always waiting for you, Niskala.